Blog ini, isinya tentang kisah temanku, Putri Rindu Kinasih, juga tentang aku. Tentang pengalaman kami, tentang keseruan kami, bego-begonya kami; semuanya deh! Ini kenapa aku yang nulis karena kami sudah seakrab Dr. Watson dan Sherlock Holmes. Dan... karena Putri malas nulis blog. Finally, silahkan selamat mengikuti cerita kami :')
Showing posts with label Life Lesson. Show all posts
Showing posts with label Life Lesson. Show all posts

April 21, 2013

(¬,¬”) How Do I SEE Myself : EXCELCIOR!



Ada yang udah nonton film Silver Lining Playbook? Itu lho filmnya Bradley Cooper sama yang jadi Katniss, siapa tuh, ck... Jennifer Lawrence.
Harusnya sih udah pada nonton ya, soalnya film ini keluarnya udah agak lama sih.
Buat yang udah nonton, tahu dong, di awal film, ceritanya si Pat Solitano kan baru keluar dari mental health facility gitu. Dan dia, kayak berjuang to heal himself, dengan terus menerus berusaha berpikiran positif. 

\( #`⌂´)/So, apa hubungannya Pat dan Putri?
Yeah, aku tahu kalian pasti bakal nanya ini.. Well, ceritanya si Putri sekarang kondisinya 11/12 sama si Pat. 
Bisa dibilang dia baru aja sembuh dari penyakit gila nomor 56. Apa itu penyakit gila nomor 56?
Penyakit gila nomor 56 itu bahasa non ilmiahnya adalah minder. Ya, jadi sudah beberapa tahun beberapa tahun belakangan ini dia mengidap penyakit minder ini, bahkan statusnya sampai kronis; menahun dan susah sembuh.
Kalau di era moderen ini ada sistem Kasta, Putri dulunya suka menganggap kalau dia itu ada di kasta terakhir. (Emang si Putri suka aneh...)
Pas aku nanya, kenapa lo suka minder sih, Put? Jawabannya suka ga masuk akal. Katanya dia merasa nggak oke-lah, nggak good looking, dan sederet nggak-nggak lainnya...ヽ( ・∀・)ノ┌┛Σ(ノ `Д´)ノ
Tapi...
Di minggu kemarin, si Putri dapat shock terapi yang akhirnya mengembalikan otak mencong-nya ke jalan yang benar.
Ceritanya dia ditegur oleh teman baiknya. One of her very best friend, yang dengan GAMBLANG, menyatakan kalau dia keberatan dengan sikap minder parah Putri.
Putri yang ditegur gitu sih, awalnya ketawa-ketiwi, seraya berkata, "I am fine."
Besoknya, sehari setelah ditegur, barulah hatinya dan otaknya ter-de-kontruk-si. Hatinya bolong... Otaknya kosong...

To make it even dramatic, pas lagi ditegur gini temennya Putri, Barbara Klavacs, dari Hungary, sharing video: Natural Beauty-nya Dove yang apparently, belakangan ini heboh banget... Jadi perbincangan dikalangan wanita.

Yang udah nonton pasti tahu deh, alur cerita iklannya. Jadi ada orang namanya, Gil Zamora. Dia kerjanya tuh  as a FBI Trained Forensic Artist.



Jadi dia ahli banget bikin sketsa orang cuma dengan diceritain ciri-ciri fisik seseorang.
Nah kemudian, ada beberapa wanita yang diundang untuk di-sketch. Both orang yang digambar atau Gil ga saling bertatap muka, pokoknya mereka disuruh mendeskripsikan diri mereka masing-masing.



Kemudian, Gil nge-sketch orang yang sama tapi yang ngasih deskripsi beda. Jadi, istilah kerennya dari perspektif orang lain.



Habis itu, orang aslinya, yang tadinya digambar, diajak untuk compare hasil sketsa dirinya, dari dua sudut pandang.



Ini gambar berdasarkan definisi dan deskripsi orang yang bersangkutan.




Ini hasil sketsa, dari sudut pandang orang lain, melihat orang yang sama.




We can see the difference kan yah...
Yang hasil deskripsi orang lain lebih bagus, lebih ceria, lebih cerah suasananya. 

Jadi INTI-nya apa sih dari tadi?

Well, both Putri and I nggak tahu sih iklan ini rekayasa atau nggak. Apakah ceritanya ini di-plot atau nggak tapi ada satu hal yang dipelajari Putri dari video ini, juga dari teguran temannya yang baik itu, yakni...

"Awalnya gue nyangka kalau dengan acting like I am not worthy, gue bukan orang yang good enough, gue bikin the people I care about senang. Gue sangka dengan punya pola pikir kayak gitu, at least gue nunjukin kalau gue tahu diri. You know, i don't want be that proud of myself, maksud hati supaya nggak dibilang belagu, sombong, etc. 
Tapi ternyata gue salah. Cara gue salah. Justru dengan bersikap non-sense kayak gitu gue malah nyakitin orang-orang disekeliling gue, yang sayang sama gue. Gue bikin mereka nggak nyaman dan so sick dengan alasan-alasan gue. Gue meruntuhkan pandangan mereka, gue menurunkan standar mereka terhadap gue, cara mereka liat gue dengan terus menerus telling that I am not a good person, and so on. Dan, gue salah. Justru sikap gue yang ini malah nunjukin kalau gue nggak tahu diri, karena gue nggak bisa menghargai diri gue sendiri."

Thus, setelah beberapa hari melakukan proses self healing yang cukup dramatis akhirnya si Putri berhasil sembuh. Sama seperti Pat Solitano, dia sekarang terus menerus suntikin diri dengan sudut pandang yang positif. Sekarang one of her favourite motto ya itu, excelsior. Kayak di film Silver Lining Playbook.

Tambahan: Dari iklan Dove itu ada satu narator yang ngomong menarik banget. Dia bilang, "... it impacts the choices in the friends that we make, the job we apply for, how we treat our children (versinya kita, how we treat our friends). It impacts everything..."

Hmm, kata-kata di atas itu bener banget. Mungkin kalau Putri wangkot, bebal, batu, nggak mau berubah dan masih tetap minder, dia bisa kehilangan teman-temannya.  (۳ ˚Д˚)۳
 Which is such a stupid thing sih, kalau sampai kejadian beneran. *amit-amit* 



"So, I have learnt my lesson." - Putri

TTFN,
Temannya Putri.








April 18, 2013

ƪ(° ̯˚ ʃ) Line Between Smile and Cry



Question of the day: sebenarnya garis antara senang sama sedih itu seberapa sih lebarnya?
Menurut aku batasnya itu terlalu tipis sampai kadangnya rasanya sebel banget, baru aja senyum-senyum tertawa, tapi selang beberapa menit berubah nangis...

Yup, yup, contohnya si Putri. Dia kemarin bete super berat. Hmm, justru karena liat dia bete, aku jadi punya pertanyaan kayak gitu. Anyway, Si Putri kenapa sih? Well, yang jelas, kemarin bener-bener not her day. Dia kan hobinya main biola tuh, jadinya walaupun lagi di Korea, dia masih sempetin waktu buat latihan. 
Nah, kalau di Dongguk, disediakan satu building khusus untuk UKM mahasiswa. Jadi semua UKM ngumpul di situ. Putri biasa daftar untuk beberapa hari, di awal minggu. Dengan demikian, dia bisa menyesuaikan jadwal kuliah, jadwal latihan dan jalan-jalan.
Ceritanya, kemarin, kira-kira lima belas menit sebelum jam latihannya habis, ada mahasiswa cowok yang ngetuk ruangan piano. Dia bilang dia adalah siswa yang selanjutnya memakai ruangan itu. Dia berjanji akan mengembalikan kunci piano ke penjaganya. Nah, setelah saling bertukar kakao id, Putri segera undur diri.
It turns out, kalau ternyata cowok itu belum daftar, dia nggak kembalikan kuncinya ke officer. Akhirnya, ya Putri lah yang kena damprat.
Putri yang udah sampai dorm, langsung lari malam-malam ke ruang piano lagi, nyari-nyari kuncinya; yang ternyata sama si cowok itu digeletakkan begitu saja di meja.
Untungnya ya, untungnya kuncinya nggak hilang. Tetapi, tetap saja Putri yang dimarah-marahi. Dia diteriakin sama ahjussi yang bertugas keep kunci-kunci ruang club. Putri berusaha sebisanya untuk menjelaskan, dia telepon buddy-nya yang bisa bahasa Korea untuk menjelaskan kronologi cerita yang terjadi. Apa daya, nasi sudah jadi bubur. Ahjussinya tetap menghukum Putri. Putri kena penalty, dia nggak boleh pakai ruang piano selama seminggu.
Kasihan... (⌣́_⌣̀)\('́_'̀ ) *pukpuk*


Padahal, ya siang-siangnya pas aku ketemu sama Putri dia tampak senang sekali. Dia bisa ngerjain soal-soal grammar quiz, dia ketemu teman-teman baru dari dari club DUBS. Malah dia diwawancara sama mereka. 

Putri seusai diwawancara sama teman-teman dari klub DUBS.


Belum ada 24 jam, malamnya dia menangis. Makanya, aku jadi bertanya-tanya, sebenarnya ada batas yang nyata nggak sih antara sedih dan senang? Batas antara tawa dan tangis?
Habis rasanya MAK JLEB banget melihat betapa hidup bisa sekejap berubah kan... Ya, aku rasa itulah seramnya hidup. Kita nggak pernah tahu kan gimana jalan ceritanya.

And, guess what!!
Hari ini pas aku ketemu Putri di taman, dia lagi ngobrol sama temannya, Minjung Kim. Aku ikut gabung sama mereka, ikut ngobrol dan melewatkan sore yang cerah, ngobrolin hal-hal seru.

Again, the question is: sebenarnya garis antara senang sama sedih itu seberapa sih lebarnya? 

Pas aku nanya, kok si Putri bisa secepat itu sih tersenyum lagi? Dia punya jawaban yang menurut aku menarik untuk dibagikan.
Putri punya paham yang lucu. Dia percaya, ada orang memang yang hidupnya datar-datar saja. Kurva  life experience-nya cederung tenang gelombangnya. In other hand, ada juga orang yang kurva hidupnya naik dan turun secara tajam. Seperti Putri, yang hidupnya terasa seperti roller-coaster.  Orang-orang dengan tipe kehidupan kayak gini, kadang sering banget dibawa naik tinggi banget, kereta-nya menanjak perlahan menuju kebahagiaan dan dalam sekejap tiba-tiba turun dengan dramatis. Waktu di bawa ke jurang dan lembah terdalam gini, pastinya kaget, sedih, bingung, takut... Salah satu guru Putri, Mr. Jac Poleman pernah bilang,

" When life is at its lowest point, where  do you think it will go next? Cheer up, there's no other way but up. Sooner or later, things will get better."

Iya ya. Bener juga, dengan kata lain, saat hidup kita bahagia, senang-senang, kita nggak boleh takabur. Tapi pas kita-nya lagi di dalam lembah, lagi down-downnya, nggak ada alasan untuk murung berlama-lama. Karena, ya emang sih, kalau dilihat dengan seksama pasti setiap kejadian ada silver lining-nya. 


Kika: Sean, Grace (Mingjun Kim), K, and Putri ^^

Usut punya usut, si Putri rupanya sudah nggak emosi sama masalah piano room itu. Dia lihat sisi positifnya, dengan nggak boleh latihan di sana seminggu, paling nggak dia punya waktu luang lebih banyak untuk mempersiapkan diri menghadapi mid term exam minggu depan.

"Sooner or later, things will get better."

Therefore, begitulah ceritaku hari ini. 


XOXO,
Temannya Putri